:::: MENU ::::

Perhimpunan Mahasiswa Teknik Metalurgi dan Material se-Indonesia

  • Progresif

  • Inovatif

  • Kontributif

PM3I Blog.

Minggu, 03 April 2016

                Pada tanggal 6-7 Februari 2016 yang lalu, telah dilaksanakan Musyawarah Nasional PM3I ke-X yang diadakan di Ruang Seminar Besar Prodi Teknik Metalurgi ITB, Kampus Ganesha, Bandung.  Munas kali ini dihadiri oleh setiap himpunan yang tergabung dalam Perhimpunan Mahasiswa Teknik Metalurgi dan Material se-Indonesia (PM3I). Pada Munas X hari pertama beragendakan pemaparan serta pengesahan program kerja dari tiap departemen yang diamanahi kepada masing masing himpunan dalam kepengurusan PM3I yg ke-10 ini.

                Acara dimulai dengan sambutan dari Sekertaris Jendral PM3I X dan dilanjut dengan sambutan dari Wakil Ketua Himpunan IMMG ITB. Acara selanjutnya yaitu pemaparan proker dan agenda dari masing-masing departemen, serta ditutup dengan pengesahan proker oleh Sekjen PM3I X. Adapun departemen-departemen tersebut adalah

Departemen Riset dan Inovasi – Institut Teknologi Sains Bandung  (HIMATAMA)

Departemen Media, Komunikasi, dan Informasi –Institut Teknologi Sepuluh Nopember (HMMT)

Departemen Sosial dan Kemasyarakatan – Politeknik Manufaktur Bandung (HMTPL)

Departemen Sinergisasi Internal – Universitas Jenderal Achmad Yani (HIMAMET)

Departemen Hubungan Luar – Institut Teknologi Bandung (IMMG)

Departemen Perekonomian – Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (HIMAMET)

Departemen Pengembangan Sumber Daya Anggota – Universitas Indonesia (IMMT)

Departemen Kesekretariatan – Institut Teknologi Bandung (MTM)


                Pada Munas hari kedua, acara dimulai dengan sosialisasi SOP. Sosialisasi SOP dipresentasikan oleh departemen terkait. SOP Surat Masuk &Keluar PM3I dan SOP PM3I corner oleh MTM ITB, SOP Media, Komunikasi, dan Informasi oleh HMMT FTI ITS, SOP Paper of The Month oleh HIMATAMA ITSB, serta SOP Reaktor Amal PM3I oleh HMTPL Polman.





                Acara kemudian dilanjutkan dengan Sharing Alumni yang diisi oleh Banggas Hanistia Pahlevi (Sekjen PM3I VII 2012/2013 ). Materi yang dibawakan oleh Mas Banggas adalah sharing-sharing mengenai pengalaman seputar PM3I dan juga pengalaman beliau berkarier di Krakatau Posco.




                Acara selanjutnya adalah Seminar Scholarship and Researcher Hunter, yang dibawakan oleh Achmad Ariaseta S.T.. Alumni Teknik Metalurgi ITB yang pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Himpunan IMMG ITB ini memberikan pengalamannya serta informasi mengenai beasiswa. Mulai dari kiat-kiat untuk mendapat beasiswa hingga menceritakan bagaimana ia bisa mendapatkan beasiswa Monbugakushou di Tokyo Institute of Technology.


Pembicara terakhir adalah Nabila Kasyalia, selaku Ketua Himpunan Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Hubungan Internasional (HMPSIHI) UNPAR sekaligus finalisMojan Kota Bnadung 2015. Materi yang dibawakan adalah tentang public speaking, yaitu bagaimana cara kita berbicara didepan umum secara baik dan benar, tips agar pede saat berbicara di depan umum, memberi tahu kesalahan-kesalahan saat berbicara, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan public speaking. 




                Munas ke X kali ini ditutup dengan Inagurasi Kepengurusan PM3I ke X 2016. Para kepala departemen dari setiap himpunan disematkan jaket PM3I oleh Sekjen PM3I X, Arief Purnomo, sebagai symbol bahwa kepengurusan telah dimulai.



Rabu, 23 Desember 2015



Pencegahan Korosi Akibat SRB, Melalui Pemanfaatan Biofilm Bakteri Bacillus sp.
Pipa Dalam Industri Minyak, Alirkan Energi Bagi 5 Milyar Masyarakat Bumi

Keberadaan industri minyak dan gas memiliki peranan yang sangat penting pada kehidupan manusia di bumi saat ini. Lebih dari 5 milyar manusia di bumi, menggantungkan kebutuhan energinya pada minyak bumi. Korosi pada industri minyak merupakan salah satu fenomena yang dapat mengakibatkan kerugian besar. Degradasi logam akibat korosi pada pipa industri minyak dapat mengakibatkan penipisan pada beberapa bagian pipa yang akhirnya memicu terjadinya perambatan retakan pada pipa, perubahan sifat mekanik yang dapat mengakibatkan kegagalan secara tiba-tiba pada stuktur pipa.
Korosi Akibat Mikroorganisme SRB
Korosi yang disebabkan oleh mikroorganisme biasa disebut dengan istilah Microbiologically Influenced Corrosion (MIC). Salah satu spesies bakteri yang menjadi penyebab korosi adalah Sulfate-Reducing Bacteria (SRB). SRB akan mereduksi senyawa sulfur kompleks menjadi sulfida. Senyawa ini bukan hanya dalam bentuk thiosulfate tetapi juga dalam bentuk sulfat, sulfit, dan elemen sulfur yang lainnya. Nantinya sulfida ini akan beraksi dengan hidrogen lalu menjadi asam sulfida. Asam inilah yang menjadi penyebab terjadinya korosi pada pipa minyak bawah tanah.
Penggunaan Bakteri Bacillus sp. Dalam Penghambatan Korosi Akibat SRB
Mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh (Zuo, dkk, 2004), beberapa strain Bacillus sp. mampu menghasilkan senyawa antimikroba yang menghambat pertumbuhan SRB. Gramisidin S adalah antibiotik yang efektif terhadap beberapa bakteri Gram negatif dan Gram positif serta beberapa jamur patogen (Kondejewski, dkk, 1996). Gramisidin S adalah turunan dari gramisidin, diproduksi oleh bakteri Gram positif, Bacillus brevis. Gramisisdin S yang bermuatan positif serta memiliki cincin peptida hidrofobik akan membuat pemisahan fosfolipid yang bermuatan negatif pada membran dari fosfolipid lainnya. Keadaan ini akan membuat membran kehilangan sifat impermebilitasnya. Akan terbentuk pula pori-pori yang memungkinkan pelepasan kation-kation esensial dari dalam sel keluar dan memungkinkan terjadinya lisis sel SRB (Kaprel'iants, dkk, 1977).
Saatnya Indonesia Memetakan Biodiversitas Mikroorganisme
Untuk mengatasi korosi akibat SRB pada beberapa kasus industri minyak BUMN di Indonesia, bakteri lokal setempat yang memiliki kekerabatan dekat dengan Bacillus sp., dapat dimanfaatkan, mengingat bakteri setempat akan lebih adaptif dan spesifik untuk daerah tertentu. Penelitian yang lama dan melibatkan keilmuan mikrobiologi, diperlukan dalam kolaborasi untuk mewujudkan metode pencegahan korosi yang efektif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Sabtu, 19 Desember 2015



Penggunaan Zeolit Sebagai Zat Penyerap Raksa Dari Limbah Pengolahan Tambang Emas Liar di Indonesia

Tambang Emas Liar, Andalkan Proses Amalgamasi
Dalam pelaksanaan proses pengolahan dan pemurnian emas, proses amalgamasi menjadi proses yang paling diminati oleh para penambang liar. Amalgamasi menjadi pilihan para tambang emas liar, karena proses amalgamasi begitu sederhana dalam pengolahanya, dan memiliki biaya operasional yang relatif murah. Produk hasil amalgamasi, baik masih dalam bentuk amalgam, bullion, ataupun emas murni, mudah dipasarkan oleh para penambang liar mengikuti harga yang berlaku secara umum.

Amalgamasi Tambang Liar: Sebabkan Pencemaran Sungai
Tercatat pada catatan Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Sukabumi pada tahun 2004 dan 2005, pencemaran air raksa (Hg) terjadi di Sungai Ciliunggunung akibat pengolahan bijih emas oleh penduduk di Kecamatan Waluran. Tidak hanya itu, laporan Bapedal Aceh mencatatkan tiga sungai di Aceh, alirkan limbah merkuri tambang emas liar.

Zeolit Sebagai Penyerap Raksa
Setelah limbah terakumulasi dalam sebuah kolam penampungan (taling pond), usaha untuk mengurangi kadar raksa dalam limbah diperlukan agar kemudian limbah dapat dibuang dengan aman ke sungai atau laut. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi kadar raksa dalam limbah adalah penggunaan zat penyerap berbahan dasar mineral industri zeolit. Penggunaan zeolit sebagai penyerap raksa (Hg) yang terdapat dalam air, sangatlah dimungkinkan, karena zeolit mempunyai struktur yang berongga-rongga sebagai penyerap. Penggunaan zeolit didasarkan pada dua parameter penting yang dimiliki zeolit yaitu, nilai kapasitas tukar kation (KTK) dan daya serap terhadap molekul yang tinggi.
Penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Geoteknologi-LIPI, pada tahun 2012, menunjukan bahwa zeolit berukuran -20; +35 mesh yang telah diaktivasi pada suhu 400˚C, memiliki kemampuan penyerapan sebesar 45,45%.

Pustaka:
·         Buletin Geologi Tata Lingkungan (Bulletin of Environmental Geology)
Vol. 22 No. 3 Desember 2012 : 155 – 168.
A call-to-action text Contact us